Bank adalah suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus unit) dengan pihak-pihak yang memerlukan dana (deficit unit). Penyaluran kredit merupakan kegiatan usaha yang mendominasi pengalokasian dana bank. Penggunaan dana untuk menyalurkan kredit ini mencapai 70% – 80% dari volume usaha bank. Oleh karena itu, sumber utama pendapatan bank berasal dari kegiatan penyaluran kredit dalam bentuk bunga. Kredit yang diberikan oleh bank dapat berbentuk kredit jangka pendek, jangka menengah ataupun jangka panjang. Syarat kredit jangka pendek pada umumnya lebih lunak dibandingkan kredit jangka panjang. Hal ini disebakan oleh karena kredit jangka panjang pada umumnya meliputi jumlah dana yang besar dan terikat untuk jangka waktu yang panjang. Dalam melakukan proses penyeleksian permohonan kredit, bank menggunakan The Five C’s of Credit Analysis sebagai berikut:

1.      Character

Watak calon debitur yang terpercaya dan jujur diharapkan debitur dengan watak ini akan berusaha menjaga nama baiknya untuk memenuhi kewajiban utangnya dengan pihak bank.

2.      Capacity

Penilaian pihak bank bahwa piutangnya dapat dibayar kembali oleh debitur dari berbagai sumber dana, termasuk hasil penjualan harta perusahaan, hasil penjualan saham perusahaan dari pemegang saham perusahaan maupun dari penjamin kredit.

3.       Capital

Kondisi harta operasional calon debitur yang mendukung kemampuan produk mereka untuk bersaing di pasar akan meningkatkan hasil penjualan dan keuntungan yang dicapai.

4.      Collateral

Fungsi utama jaminan bagi bank adalah memperkecil jumlah kerugian yang diderita oleh bank, apalagi debitur tidak memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo.

5.       Condition of Economic

Bank memperhatikan kondisi ekonomi internasional pada umumnya dan kondisi nasional pada khususnya serta kebijaksanaan pemerintah yang berdampak langsung atau tidak langsung terhadap kondisi ekonomi nasional.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) merupakan salah satu bank yang memiliki nasabah dengan jumlah yang cukup besar serta jangkauan wilayah yang sangat luas. Untuk mencapai target laba perusahaan yang telah ditetapkan, BRI mencoba melakukan exspansi kredit kepada para konsumennya yang tersebar diseluruh pelosok negeri, dalam hal ini BRI juga fokus pada sektor yaitu UMKM, konstruksi dan korporat BUMN. Sebelum menyalurkan kredit kepada calon debitor, BRI harus menilai dulu kelayakan proposal kreditnya serta memperhatikan The Five C’s of Credit Analysis yang telah dijelaskan diatas. Menilai suatu proposal kredit, bukanlah hal yang mudah karena melibatkan banyak faktor yang harus dipertimbangkan dan dianalisis dengan tepat, cermat, namun cepat. Hal ini mengingat keamanan dari kredit itu sendiri agar di kemudian hari tidak menimbulkan masalah yang menyulitkan pihak debitor maupun merugikan pihak kreditor (bank) akibat pengembalian kredit yang kurang lancar, diragukan, dan macet.
Dengan perkembangan teknologi komputer di bidang sistem informasi dan melihat karakteristik permasalahan di atas yang mana penilaian kelayakan proposal kredit merupakan masalah yang kurang terstruktur atau semi terstruktur dan cukup rumit dan kompleks, juga merupakan tanggungjawab pihak manajemen menengah dan puncak yang harus dilakukan secara tepat dan efisien. Sistem Pendukung Keputusan dibutuhkan adalah Sistem Pendukung Keputusan Spesifik (Specific Decision Support Systems) SDSS yang dirancang dengan cara cepat (Quick Hit) dan pendekatan secara interaktif. Sistem ini tidak dilengkapi sarana untuk mengubah beberapa model yang ada, yang memungkinkan pihak pengambil keputusan mengembangkan kreativitas analisisnya. Selain itu juga memungkinkan sistem ini untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ada.

Penilaian kelayakan proposal kredit dalam SDSS ini didasarkan pada prinsip 5C, 5P, 3R, aspek hukum, aspek bisnis dan manajemen, aspek pemasaran, aspek keuangan, aspek resiko, dan aspek jaminan dengan menggunakan bantuan model: Rasio keuangan, metode sistem angka, analisis perbandingan (vertikal, horizontal, trends), analisis sumber dan penggunaan dana, analisis SWOT, analisis kebutuhan dana (Quick and Dirty Method, Pro-Forma Neraca Metode Penjualan, Pro-Forma Neraca Growth Strategies, Pro-Forma Neraca Metode Turnover, Metode Cash Flow), dan analisis resiko investasi.

SDSS (Specific Decision Support Systems) dapat menggunakan perangkat lunak CA Clipper 5.2 sebagai DSS Tools atau peralatan DSS-nya. SDSS ini akan membantu dan memudahkan pihak pengambil keputusan dalam menggunakannya untuk menilai kelayakan suatu proposal kredit dan memutuskan ketentuan kredit yang cocok bagi calon debitor sehingga tidak menyulitkan pihak debitor dalam mengembalikan kreditnya nanti. Pemanfaatan aplikasi SDSS akan membantu dan memudahkan pihak BRI maupun bank-bank yang lain dalam pengambil keputusan dalam tugasnya menilai kelayakan proposal kredit. Serta Mengurangi kesalahan dalam membuat keputusan untuk bank memberikan kredit kepada pengusaha atau perusahaan.